• header
  • header

Selamat Datang di Website MADRASAH TSANAWIYAH AN-NUR | Terima Kasih Kunjungannya.

Pencarian

Login Member

Username:
Password :

Kontak Kami


MADRASAH TSANAWIYAH AN-NUR

NPSN : 20518073

Jl.Raya Diponegoro Bululawang Malang 65171


e-mail: mts.annur.bll@gmail.com

TLP : (0341) 833244


          

Banner

Jajak Pendapat

Apakah tanggapan anda terhadap Website MTs AN NUR Bululawang?
Sangat Inovatif
Inovatif
Cukup Inovatif
Tidak Tahu
  Lihat

Statistik


Total Hits : 24619
Pengunjung : 10301
Hari ini : 24
Hits hari ini : 58
Member Online : 18
IP : 107.20.115.174
Proxy : -
Browser : Opera Mini

Status Member

  • HERU YULIANTO (Admin)
    2016-10-08 23:36:40

    Be Good Teacher or Never
  • Sahra\'i, S.Pd (Admin)
    2016-10-08 23:32:37

    Membahagiakan orang lain dengan kelebihan kita membuat orang lain tersebut tak mempermasalahkan kelemahan kita

PENERAPAN KURIKULUM 2013 DAN PROBLEMATIKANYA




A. Penerapan Kurikulum 2013 dan Problematikanya 1. Pengertian Kurikulum 2013 Sebelum membahas tentang kurikulum 2013, maka agar tidak kerancuan pemahaman, terlebih dahulu akan dijelaskan tentang pengertian kurikulum. Pengertian Kurikulum Istilah kurikulum berasal dari kata “Curriculum” yang mempunyai arti “ a course of study individu school or university”. Istilah kurikulum pada mulanya dipakai oleh bangsa Yunani di lapangan atletik dengan pengertian “Jarak Yang Ditempuh” . Sedangkan menurut Dr. Muhaimin dalam bukunya yang berjudul “Wacana Pengembangan Pendidikan Islam” kurikulum dalam arti sempit adalah seperangkat rencana atau pengaturan tentang isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar di sekolah . Kurikulum 2013 adalah kurikulum terbaru yang diluncurkan oleh Departemen Pendidikan Nasional mulai tahun 2013 sebagai bentuk pengembangan dari kurikulum sebelumnya yaitu kurikulum 2006 atau Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yang mencangkup kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan secara terpadu. Hal ini senada dengan apa yag ditegaskan dalam pasal 1 ayat 29 Undang-Undang no. 20 tahun 2003 bahwa kurikulum merupakan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggara kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Karakteristik Kurikulum 2013 Kurikulum 2013 adalah kurikulum berbasis kompetensi. Kurikulum berbasis kompetensi adalah outcomes-based curriculum dan oleh karena itu pengembangan kurikulum diarahkan pada pencapaian kompetensi yang dirumuskan dari Standar Kompetensi Lulusan. Demikian pula penilaian hasil belajar dan hasil kurikulum diukur dari pencapaian kompetensi. Keberhasilan kurikulum dartikan sebagai pencapaian kompetensi yang dirancang dalam dokumen kurikulum oleh seluruh peserta didik. Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengemukakan bahwa kurikulum 2013 memiliki kerakteristik sebagai berikut: 1. Isi atau konten kurikulum yaitu kompetensi dinyatakan dalam bentuk Kompetensi Inti (KI) kelas dan dirinci lebih lanjut dalam Kompetensi Dasar (KD) mata pelajaran. 2. Kompetensi Inti (KI) merupakan gambaran secara kategorial mengenai kompetensi dalam aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang harus dipelajari peserta didik untuk suatu jenjang sekolah, kelas dan mata pelajaran. Kompetensi Inti adalah kualitas yang harus dimiliki seorang peserta didik untuk setiap kelas melalui pembelajaran KD yang diorganisasikan dalam proses pembelajaran siswa aktif. 3. Kompetensi Dasar (KD) merupakan kompetensi yang dipelajari peserta didik untuk suatu tema untuk SD/MI, dan untuk mata pelajaran di kelas tertentu untuk SMP/MTS, SMA/MA, SMK/MAK. 4. Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar di jenjang pendidikan menengah diutamakan pada ranah sikap sedangkan pada jenjang pendidikan menengah pada kemampuan intelektual (kemampuan berpikir tingkat tinggi). 5. Kompetensi Inti menjadi unsur organisatoris (organizing elements) Kompetensi Dasar yaitu semua KD dan proses pembelajaran dikembangkan untuk mencapai kompetensi dalam Kompetensi Inti. 6. Kompetensi Dasar yang dikembangkan didasarkan pada prinsip akumulatif, saling memperkuat (reinforced) dan memperkaya (enriched) antar mata pelajaran dan jenjang pendidikan (organisasi horizontal dan vertikal). 7. Silabus dikembangkan sebagai rancangan belajar untuk satu tema (SD/MI) atau satu kelas dan satu mata pelajaran (SMP/MTS, SMA/MA, SMK/MAK). Dalam silabus tercantum seluruh KD untuk tema atau mata pelajaran di kelas tersebut. Prinsip-prinsip Dalam Pengembangan Kurikulum 2013 Pengembangan kurikulum didasarkan pada prinsip-prinsip berikut: sebagai berikut: 1. Kurikulum bukan hanya merupakan sekumpulan daftar mata pelajaran karena mata pelajaran hanya merupakan sumber materi pembelajaran untuk mencapai kompetensi. Atas dasar prinsip tersebut maka kurikulum sebagai rencana adalah rancangan untuk konten pendidikan yang harus dimiliki oleh seluruh peserta didik setelah menyelesaikan pendidikannya di satu satuan atau jenjang pendidikan, kurikulum sebagai proses adalah totalitas pengalaman belajar peserta didik di satu satuan atau jenjang pendidikan untuk menguasai konten pendidikan yang dirancang dalam rencana, dan hasil belajar adalah perilaku peserta didik secara keseluruhan dalam menerapkan perolehannya di masyarakat. 2. Kurikulum didasarkan pada standar kompetensi lulusan yang ditetapkan untuk satu satuan pendidikan, jenjang pendidikan, dan program pendidikan. Sesuai dengan kebijakan Pemerintah mengenai Wajib Belajar 12 Tahun maka Standar Kompetensi Lulusan yang menjadi dasar pengembangan kurikulum adalah kemampuan yang harus dimiliki peserta didik setelah mengikuti proses pendidikan selama 12 tahun. Selain itu sesuai dengan fungsi dan tujuan jenjang pendidikan dasar dan pendidikan menengah serta fungsi dan tujuan dari masing-masing satuan pendidikan pada setiap jenjang pendidikan maka pengembangan kurikulum didasarkan pula atas Standar Kompetensi Lulusan pendidikan dasar dan pendidikan menengah serta Standar Kompetensi satuan pendidikan. 3. Kurikulum didasarkan pada model kurikulum berbasis kompetensi. Model kurikulum berbasis kompetensi ditandai oleh pengembangan kompetensi berupa sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang dikemas dalam berbagai mata pelajaran. Kompetensi yang termasuk pengetahuan dikemas secara khusus dalam satu mata pelajaran. Kompetensi yang termasuk sikap dan keterampilan dikemas dalam setiap mata pelajaran dan bersifat lintas mata pelajaran, diorganisasikan dengan memperhatikan prinsip penguatan (organisasi horizontal) dan keberlanjutan (organisasi vertikal) sehingga memenuhi prinsip akumulasi dalam pembelajaran. 4. Kurikulum didasarkan atas prinsip bahwa setiap sikap, keterampilan dan pengetahuan yang dirumuskan dalam kurikulum berbentuk Kompetensi Dasar dapat dipelajari dan dikuasai setiap peserta didik (mastery learning) sesuai dengan kaedah kurikulum berbasis kompetensi. 5. Kurikulum dikembangkan dengan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan perbedaan dalam kemampuan dan minat. Atas dasar prinsip perbedaan kemampuan, kurikulum memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk memiliki tingkat penguasaan di atas standar yang telah ditentukan (dalam sikap, keterampilan dan pengetahuan), beragam program sesuai dengan minat peserta didik, dan beragam pengalaman belajar yang sesuai dengan kemampuan awal dan minat peserta didik. 6. Kurikulum berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya. Kurikulum dikembangkan berdasarkan prinsip bahwa peserta didik berada pada posisi sentral dan aktif dalam belajar. 7. Kurikulum harus tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, budaya, teknologi, dan seni. Kurikulum dikembangkan atas dasar kesadaran bahwa ilmu pengetahuan, budaya, teknologi dan seni berkembang secara dinamis. Oleh karena itu konten kurikulum harus selalu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan, budaya, teknologi dan seni; membangun rasa ingin tahu dan kemampuan bagi peserta didik untuk mengikuti, memanfaatkan secara tepat hasil-hasil ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. 8. Kurikulum harus relevan dengan kebutuhan kehidupan. Pendidikan tidak boleh memisahkan peserta didik dari lingkungannya dan pengembangan kurikulum didasarkan kepada prinsip relevansi pendidikan dengan kebutuhan dan lingkungan hidup. Artinya, kurikulum memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mempelajari permasalahan di lingkungan masyarakatnya sebagai konten kurikulum dan kesempatan untuk mengaplikasikan yang dipelajari di kelas dalam kehidupan di masyarakat. 9. Kurikulum harus diarahkan kepada proses pengembangan, pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat. Pemberdayaan peserta didik untuk belajar sepanjang hayat dirumuskan dalam sikap, keterampilan dan pengetahuan dasar yang dapat digunakan untuk mengembangkan budaya belajar. 10. Kurikulum didasarkan kepada kepentingan nasional dan kepentingan daerah. Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan kepentingan nasional dan kepentingan daerah untuk membangun kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Kepentingan nasional dikembangkan melalui penentuan struktur kurikulum, SK/KD dan silabus. Kepentingan daerah untuk membangun manusia yang tidak tercabut dari akar budayanya dan mampu berkontribusi langsung kepada masyarakat di sekitarnya. Kedua kepentingan ini saling mengisi dan memberdayakan keragaman dan kebersatuan yang dinyatakan dalam Bhineka Tunggal Ika untuk membangun Negara Kesatuan Republik Indonesia. 11. Penilaian hasil belajar ditujukan untuk mengetahui dan memperbaiki pencapaian kompetensi. Instrumen penilaian hasil belajar adalah alat untuk mengetahui kekurangan yang dimiliki setiap peserta didik atau sekelompok peserta didik. Kekurangan tersebut harus segera diikuti dengan proses memperbaiki kekurangan dalam aspek hasil belajar yang dimiliki seorang atau sekelompok peserta didik. . Komponen-komponen Kurikulum 2013 Ada 4 unsur komponen kurikulum yaitu: tujuan, isi (bahan pelajaran), strategi pelaksanaan (proses belajar mengajar), dan penilaian (evaluasi) a. Komponen Tujuan Kurikulum merupakan suatu program yang dimaksudkan untuk mencapai tujuan pendidikan. Tujuan itulah yang dijadikan arah atau acuan segala kegiatan pendidikan yang dijalankan. Berhasil atau tidaknya program pengajaran di Sekolah dapat diukur dari seberapa jauh dan banyaknya pencapaian tujuan-tujuan tersebut. Dalam setiap kurikulum lembaga pendidikan, pasti dicantumkan tujuan-tujuan pendidikan yang akan atau harus dicapai oleh lembaga pendidikan yang bersangkutan. Tujuan pendidikan nasional yang merupakan pendidikan pada tataran makroskopik, selanjutnya dijabarkan ke dalam tujuan institusional yaitu tujuan pendidikan yang ingin dicapai dari setiap jenis maupun jenjang sekolah atau satuan pendidikan tertentu. Dalam Permendiknas No. 22 Tahun 2007 dikemukakan bahwa tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah dirumuskan mengacu kepada tujuan umum pendidikan berikut. 1. Tujuan pendidikan dasar adalah meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut. 2. Tujuan pendidikan menengah adalah meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut. 3. Tujuan pendidikan menengah kejuruan adalah meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan kejuruannya. 4. Tujuan pendidikan institusional tersebut kemudian dijabarkan lagi ke dalam tujuan kurikuler; yaitu tujuan pendidikan yang ingin dicapai dari setiap mata pelajaran yang dikembangkan di setiap sekolah atau satuan pendidikan. b. Komponen Isi/Materi Isi program kurikulum adalah segala sesuatu yang diberikan kepada anak didik dalam kegiatan belajar mengajar dalam rangka mencapai tujuan. Isi kurikulum meliputi jenis-jenis bidang studi yang diajarkan dan isi program masing-masing bidang studi tersebut. Bidang-bidang studi tersebut disesuaikan dengan jenis, jenjang maupun jalur pendidikan yang ada. Kriteria yang dapat membantu pada perancangan kurikulum dalam menentukan isi kurikulum. Kriteria itu antara lain: 1. Isi kurikulum harus sesuai, tepat dan bermakna bagi perkembangan siswa. 2. Isi kurikulum harus mencerminkan kenyataan sosial. 3. Isi kurikulum harus mengandung pengetahuan ilmiah yang tahan uji. 4. Isi kurikulum mengandung bahan pelajaran yang jelas. 5. Isi kurikulum dapat menunjanga tercapainya tujuan pendidikan. Materi kurikulum pada hakekatnya adalah isi kurikulum yang dikembangkan dan disusun dengan prinsip-prinsip sebagai berikut : 1. Materi kurikulum berupa bahan pelajaran terdiri dari bahan kajian atau topiktopik pelajaran yang dapat dikaji oleh siswa dalam proses pembelajaran. 2. Mengacu pada pencapaian tujuan setiap satuan pelajaran. 3. Diarahkan untuk mencapai tujuan pendidikan nasional. c. Komponen Strategi Strategi merujuk pada pendekatan dan metode serta peralatan mengajar yang digunakan dalam pengajaran. Tetapi pada hakikatnya strategi pengajaran tidak hanya terbatas pada hal itu saja. Pembicaraan strategi pengajaran tidak hanya terbatas pada hal itu saja. Pembicaraan strategi pengajaran tergambar dari cara yang ditempuh dalam melaksanakan pengajaan, mengadakan penilaian, pelaksanaan bimbingan dan mengatur kegiatan, baik yang secara umum berlaku maupun yang bersifat khusus dalam pengajaran. Strategi pelaksanaan kurikulum berhubungan dengan bagaimana kurikulum itu dilaksanakan disekolah. Kurikulum merupakan rencana, ide, harapan, yang harus diwujudkan secara nyata disekolah, sehingga mampu mengantarkan anak didik mencapai tujuan pendidikan. Kurikulum yang baik tidak akan mencapai hasil yang maksimal, jika pelaksanaannya menghasilkan sesuatu yang baik bagi anak didik. Komponen strategi pelaksanaan kurikulum meliputi pengajaran, penilaian, bimbingan dan penyuluhan dan pengaturan kegiatan sekolah. d. Komponen Evaluasi Evaluasi merupakan salah satu komponen kurikulum. Dalam pengertian terbatas, evaluasi kurikulum dimaksudkan untuk memeriksa tingkat ketercapaian tujuan-tujuan pendidikan yang ingin diwujudkan melalui kurikulum yang bersangkutan. Sedangkan dalam pengertian yang lebih luas, evaluasi kurikulum dimaksudkan untuk memeriksa kinerja kurikulum secara keseluruhan ditinjau dari berbagai kriteria. Indikator kinerja yang dievaluasi tidak hanya terbatas pada efektivitas saja, namun juga relevansi, efisiensi, kelaikan (feasibility) program. Pada bagian lain, dikatakan bahwa luas atau tidaknya suatu program evaluasi kurikulum sebenarnya ditentukan oleh tujuan diadakannya evaluasi kurikulum. Apakah evaluasi tersebut ditujukan untuk mengevaluasi keseluruhan sistem kurikulum atau komponen-komponen tertentu saja dalam sistem kurikulum tersebut. Salah satu komponen kurikulum penting yang perlu dievaluasi adalah berkenaan dengan proses dan hasil belajar siswa. Evaluasi kurikulum memegang peranan penting, baik untuk penentuan kebijakan pendidikan pada umumnya maupun untuk pengambilan keputusan dalam kurikulum itu sendiri. Hasil-hasil evaluasi kurikulum dapat digunakan oleh para pemegang kebijakan pendidikan dan para pengembang kurikulum dalam memilih dan menetapkan kebijakan pengembangan sistem pendidikan dan pengembangan model kurikulum yang digunakan. Hasil–hasil evaluasi kurikulum juga dapat digunakan oleh guru-guru, kepala sekolah dan para pelaksana pendidikan lainnya dalam memahami dan membantu perkembangan peserta didik, memilih bahan pelajaran, memilih metode dan alat-alat bantu pelajaran, cara penilaian serta fasilitas pendidikan lainnya. Merupakan suatu komponen kurikulum, karena dengan evaluasi dapat di peroleh informasi akurat tentang penyelenggaraan pembelajaran dan keberhasilan belajar siswa. Berdasarkan informasi itu dapat dibuat keputusan tentang kurikulum itu sendiri, pembelajaran kesulitan dan upaya bimbingan yang perlu di lakukan. 2. Konsep Dasar Kurikulum 2013 Inti dari Kurikulum 2013 ada pada upaya penyederhanaan dan sifatnya yang tematik-integratif. Kurikulum 2013 disiapkan untuk mencetak generasi yang siap di dalam menghadapi tantangan masa depan. Karena itu kurikulum disusun untuk mengantisipasi perkembangan masa depan. Titik berat kurikulum 2013 adalah bertujuan agar peserta didik atau siswa memiliki kemampuan yang lebih baik dalam melakukan: 1. Observasi, 2. Bertanya (wawancara), 3. Bernalar, dan 4. Mengkomunikasikan (mempresentasikan) apa yang mereka peroleh atau mereka ketahui setelah menerima materi pembelajaran. Adapun obyek pembelajaran dalam kurikulum 2013 adalah: fenomena alam, sosial, seni, dan budaya. Melalui pendekatan itu diharapkan siswa kita memiliki kompetensi sikap, ketrampilan, dan pengetahuan jauh lebih baik. Mereka akan lebih kreatif, inovatif, dan lebih produktif, sehingga nantinya mereka bisa sukses dalam menghadapi berbagai persoalan dan tantangan di zamannya, memasuki masa depan yang lebih baik. Pelaksanaan penyusunan kurikulum 2013 adalah bagian dari melanjutkan pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) yang telah dirintis pada tahun 2004 dengan mencakup kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan secara terpadu, sebagaimana amanat UU 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada penjelasan pasal 35, di mana kompetensi lulusan merupakan kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan sesuai dengan standar nasional yang telah disepakati. Paparan ini merupakan bagian dari uji publik Kurikulum 2013, yang diharapkan dapat menjaring pendapat dan masukan dari masyarakat. Kurikulum 2013 adalah kurikulum berbasis kompetensi yang pernah digagas dalam Rintisan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) 2004, tetapi belum terselesaikan karena desakan untuk segera mengimplementasikan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006. Rumusannya berdasarkan pada sudut pandang yang berbeda dengan kurikulum berbasis materi, sehingga sangat dimungkinkan terjadi perbedaan persepsi tentang bagaimana kurikulum seharusnya dirancang. Perbedaan ini menyebabkan munculnya berbagai kritik dari yang terbiasa menggunakan kurikulum berbasis materi. Untuk itu ada baiknya memahami lebih dahulu terhadap B. Guru dan Problematikanya 1. Guru Dalam kamus bahasa Indonesia,”Guru” diartikan sebagai orang yang pekerjaanya mengajar. Dalam bahasa arab disebut” muallim” dan dalam bahasa inggris disebut ”teacher” yang artinya” a person whose occupation is thiching others” (McLeod, 1989) yaitu seseorang yang pekerjaanya mengajar orang lain. Menurut istilah guru adalah orang dewasa yang bertanggung jawab memberikan bantuan kepada peserta didik dalam perkembangan jasmani dan rohaninya agar mencapai kedewasaan, mampu melaksanakan tugasnya sebagai makhluk sosial dan sebagai individu yang sanggup berdiri sendiri. Dalam kaitannya dengan kurikulum 2013, guru juga memerlukan kompetensi kepribadian. Kompetensi yang dimaksud di sini adalah kemampuan dan kewenangan guru dalam melaksanakan profesinya, sedangkan profesionalisme berarti kualitas dan perilaku khusus yang menjadi ciri khas guru professional. Jadi guru yang professional adalah guru yang kompeten dan melaksanakan tugas mengajar sebagai satu-satunya profesi utama wajib melaksanakan. Kompetensi ranah guru adalah kompetensi kognitif, afektif, dan psikomotorik. a. Karekteristik Kepribadian Guru Kepribadian adalah faktor yang sangat berpengaruh terhadap keberhasilan seorang guru sebagai pengembang sumber daya manusia. Karena disamping ia berperan sebagai pembimbing dan pembina guru juga berperan sebagai anutan. Mengenai pentingnya kepribadian guru, seorang psikolog Prof. DR. Zakiyah Darajat (1982) menegaskan: “Kepribadian itulah yang akan menentukan apakah ia menjadai pendidik dan pembina yang baik bagi anak didiknya, ataukah akan menjadi perusak atau pengahancur bagi hari depan anak didik terutama bagi anak didik yang masih kecil (tingkat sekolah dasar) dan mereka yang sedang mengalami kegoncangan jiwa (tingkat menengah)”. Oleh karena itu, Setiap calon guru professional sangat diharapkan memahami bagaimana karakteristik kepribadian dirinya yang diperlukan sebagai anutan peserta didiknya. Secara konstitusional, guru hendaknya berkepribdian Pencasila dan UUD’45 yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, disamping itu harus memiliki kualifikasi sebagai tenaga pengajar (Pasal 28 ayat (2) UUSPN/1989). Karakteristik kepribadian yang berkaitan dengan keberhasilan guru dalam menggeluti profesinya adalah: 1. Fleksibelitas kognitif guru, fleksibelitas kognitif merupakan kemampuan berfikir yang diikuti dengan tindakan secara simultan dan memadai dalam situasi tertentu. Dalam PBM, fleksibelitas kognitif guru terdiri atas 3 dimensi yaitu: dimensi kerakteristik pribadi guiru, dimensi kognitif guru terhadap siswa dandimensi sikap kognitif guru terhadap materi pelajaran serta metode mengajar. 2. Keterbukaan psikologi pribadi guru Guru yang terbuka adalah biasanya ditandai dengan kesediaannya yang relatif tinggi untuk mengkomunikasi dirinya dengan faktor-faktor ekstern. b. Kompetensi Profesionalisme Guru Kompetensi profesionalisme guru dapat diartikan sebagai kemampuan dan kewenangan guru dalam menjalankan profesi keguruannya. Artinya guru yang piawai dalam melaksanakan profesinya dapat disebut sebagai guru yang berkompeten dan professional. Mengingat tugas dan tangungjawab guru yang begitu kompleksnya, maka profesi ini memberikan persyaratan khusus antara lain: 1. Menuntut adanya ketrampilan yang berdasarkan konsep dan teori ilmu pengetahuan yang mendalam. 2. Menekankan pada suatu keahlian dalam bidang tertentu sesuai dengan bidang profesinya. 3. Menuntut adanya tingkat pendidikan keguruan yang memadai. 4. Adanya kepakaan terhadap dampak kemasyarakatan dari pekerjaan yang dilaksanakan. 5. Memungkinkan perkembangan sejalan dengan dinamika kehidupan (Drs. Moh.Ali, 1985). Dalam menjalankan kewenangannya profesionalnya, guru dituntut memiliki keanekaragaman kecakapan (competencies) yang bersifat psikologis, yang meliputi: kompetensi kognitif, kompetensi afektif dan kompetensi psikomotorik. c. Hubungan Guru dengan Proses Belajar Mengajar Hal-hal pokok mengenai hubungan guru dan proses belajar mengajar, meliputi: 1. Konsep Dasar Proses Belajar Mengajar Dalam proses belajar mengajar disamping guru menggunakan interaksi resipkoral, ia juga dianjurkan memenfaatkan konsep komunikasi banyak arahan dalam rangka menggalakkan cara belajar siswa aktif (CBSA). 2. Fungsi Guru Dalam PBM Fungsi dan peran penting guru dalam PBM ia sebagai “ director of Learning” (direktur belajar). Artinya setiap guru diharapkan untuk pandai-pandai mengarahkan kegiatan belajar peserta didik agar mencapai keberhasilan belajar sebagaimana yang telah ditetapkan dalam sasaran kegiatan. Menurut Gagne, setiap guru berfungsi sebagai: perancang pengajaran, pengelola pengajaran dan penilaian prestasi belajar siswa. Dari pendapat tersebut sebenarnya masih banyak fungsi guru dalam PBM yang tidak disebutkan. 3. Posisi dalam PBM Dikutip dari Darajat (1982), menurut Claife (1976), guru adalah:…an authority in the disciplines relevant to education, yakni pemegang hak otoritas atas cabang-cabang ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan pendidikan. Walaupun begitu, tugas guru tentu tidak hanya menuangkan ilmu pengetahuan kedalam otak para siswa, tetapi juga melatih ketrampilan dan menanamkan sikap serta nilai kepada mereka. Dalam PBM setiap meteri pelajaran, posisi para guru sangat penting dan strategis, meskipun gaya ilmu pengetahuannya saja, tetapi juga melatih ketrampilan, menanamkan sikap dan nilai. Begitu juga dalam penerapan Kurikulum 2013, guru dituntut untuk mengarahkan peserta didiknya pada penekanan potensi peserta didik dalam menjalankan tugas-tugasnya dalam kehidupan sehari-hari. 2. Problematika yang Dihadapi Guru dalam Penerapan Kurikulum 2013 Profesi mengajar adalah suatu pekerjaan professional tidak pernah luput dari problematika. Apalagi bila pekerjaan tersebut dilakukan dilingkungan masyarakat yang dinamis, dan dihubungkan dengan keperluan perorangan atau kemasyarakatan, maka keanekaan problematika tersebut makin luas. Problematika-problematika itu sebenarnya selain dari pribadi guru juga timbul dari gejala dinamika masyarakat itu sendiri, yaitu hal-hal yang menunjukkan bahwa hidup manusia itu menurut kemajuan-kemajuan yang perlu dipenuhi oleh anggota masyarakat itu sendiri . Dari penjelasan diatas sudah jelas bahwa guru dalam melaksanakan tugasnya tidak selalu berjalan dengan mulus, guru akan senantiasa dihadapkan pada problematika-problematika yang bersifat pribadi maupun sosial. Hal ini secara umum disebabkan terbatasnya kemampuan pada manusia. Sedangkan guru sendiri harus mampu menyadari bahwa manusia itu masih harus berusaha semaksimal mungkin untuk mengembangkan kemampuan dirinya agar bisa mengimbangi kemajuan ilmu pengetahuan dan tehnologi. Secara garis besar yang menyebabkan timbulnya problem dalam penerapan kurikulum 2013 ada beberapa faktor, yaitu: a. Faktor Internal Factor ini ada beberapa bagian yaitu: latar belakang pendidikan guru, pengalaman balajar, kondisi fisik atau psikis. b. Faktor Eksternal Faktor eksternal ini juga ada beberapa bagian antara lain: terbatasnya sarana dan prasarana, pengawasan dari kepala madrasah dan kurangnya pelatihan. Adapun problematika yang dihadapi oleh guru dalam melaksanakan kurikulum berbasis kompetensi adalah sebagai berikut: a. Problem Guru dalam Penyusunan Silabus Silabus dalam kurikulum berbasis kompetensi adalah suatu produk pengembangan kurikulum berupa penjabaran lebih lanjut dari standar kompetensi dan kemampuan dasar yang ingin dicapai dan pokok-pokok serta uraian materi yang perlu dipelajar peserta didik dalam rangka mencapai standar kompetensi dan kemampuan dasar. Manfaat dari silabus adalah sebagai pedoman dalam pengembangan pembelajaran, pengelolaan kegiatan pembelajaran dan pengembangan sistem penilaian. Silabus merupakan sumber pokok dalam penyusunan rencana pembelajaran, baik rencana pembelajaran untuk satu standar kompetensi maupun satu kompetensi dasar. b. Problem Guru dalam Pengembangan Materi Materi pokok atau materi pembelajaran adalah pokok-pokok materi yang harus dipelajari peserta didik sebagai sarana pencapaian kompetensi dasar yang harus dikuasai oleh peserta didik. Jika kompetensi dasar dirumuskan dalam bentuk kata kerja, maka materi pokok atau pembelajaran dirumuskan dalam bentuk kata benda atau kata kerja yang dibedakan. Selanjutnya materi pokok atau pembelajaran itu perlu dirinci atau diuraikan kemudian diurutkan untuk memudahkan kegiatan pembelajarannya. Satu hal perlu diperhatikan dalam merinci atau menguraikan pembelajaran adalah melakukan identifikasi terhadap meteri tersebut. c. Problem Guru Dalam Pengambangan Metode Dalam memilih metode mengajar, guru harus mempertimbangkan system pengajaran yang lain baik itu tujuan, materi media dan yang lainnya karena tanpa adanya kesesuaian antara system pengajaran maka proses belajar mengajar tidak akan berjalan dengan efektif dan efisien. Namun pada kenyataannya banyak guru yang tidak menerapkan metode yang tepat dalam menyampaikan materi pelajaran dikelas. Mayoritas mereka hanya menggunakan metode tertentu, tanpa ada pengembangan. Oleh karena itu dalam penerapan kurikulum berbasis kompetensi ini guru harus memiliki metode yang tepat dalam menyampaikan materi pelajaran dan harus disesuaikan dengan kemampuan guru sendiri, situasi, alat-alat yang ada dan tingkat kemampuan peserta didik. d. Problem Guru dalam Menentukan Media Media sebagai salah satu komponen yang mendukung dalam melaksanakan proses belajar mengajar. Media ini adalah alat yang dapat membantu proses belajar mengajar yang berfungsi memperjelas makna pesan yang disampaikan sehingga tujuan pengajaran dapat tercapai dengan baik. Manfaat dari penggunaan media adalah menambah kegiatan belajar murid, menghemat waktu belajar, menyebabkan agar hasil belajar lebih permanen, memberikan kemudahan dalam pemahaman materi bagi peserta didik. Dari sini maka dapat dilihat akan pentingnya penggunaan media, tetapi yang menjadi problem yaitu tersedianya alat pengajaran yang relatif terbatas berkaitan dengan biaya yang ada. Dalam hal ini guru harus bersikap kreatif mampu menciptakan media sendiri secara sederhana tetapi dapat dimengerti oleh peserta didik. e. Problem Guru dalam Menentukan Evaluasi (penilaian) Evaluasi yang sering disebut penilaian ini adalah alat untuk mengukur kemapuan sampai dimana penguasaan murid terhadap pendidikan yang telah diberikan. Adapun dasar tujuan evaluasi adalah untuk mengetahui atau mengumpulkan informasi tentang taraf perkembangan dan kemajuan yang diperoleh peserta didik, dalam rangka mencapai tujuan yang ditetapkan dalam kurikulum. Sesuai dengan tujuan evaluasi diatas, maka untuk mengetahui efektifitas dan efisien pelaksanaan proses belajar mengajar harus diadakan evaluasi. Evaluasi ini sebaiknya dilakukan tiap selesai berlangsungnya pelajaran atau pada awal kegiatan belajar-mengajar dimulai. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui kesiapan peserta didik dalam mengikuti pelajaran yang akan dilaksanakan. Menurut Eddy SoewarsikartaWijadjaja, fungsi evaluasi dalam pendidikan dan pengajaran adalah sebagai berikut: 1) Untuk mengetahui taraf kesiapan murid dalam kegiatan tertentu 2) Untuk mengetahui seberapa jauh hasil yang telah dicapai dalam proses belajar mengajar yang telah dilaksanakan. 3) Untuk menguasai penguasaan bahan pelajaran oleh peserta didik 4) Sebagai bahan informasi dalam memberikan bimbingan tentang jenis pendidikan atau jabatan yang cocok bagi peserta didik 5) Sebagai bahan iniformasi tentang seorang anak apakah peserta didik naik atau tinggal kelas 6) Menafsirkan peserta didik apakah ia bisa terjun ke masyarakat atau harus melanjutkan belajarnya 7) Mengadakan seleksi calon yang paling cocok untuk suatu jabatan atau suatu jenis pendidikan 8) Mengetahui taraf efisiensi metode mengajar yang digunakan di kelas. Dengan mengadakan evaluasi, seorang guru akan dapat mengetahui sampai dimana pengetahuan peserta didik, dan apa metode yang sesuai untuk digunakan dalam kegiatan belajar mengajar dan untuk memperbaiki kelemahan-kelemahan guru dalam menyampaikan materi . C. Kebijakan Kepala Madrasah 1. Kebijakan Kepala Madrasah Sebenarnya kepala itu sama saja dengan pemimpin. Pemimpin adalah orang yang bertanggung jawab dalam pencapaian tujuan usaha pendidikan yang dipimpinnya. Sedangkan kepemimpinan dapat diartikan sebagai kegiatan untuk mempengaruhi orang-orang yang diarahkan terhadap pencapaian tujuan organisasi. Sedangkan menurut Soepardi (1988) mendefinisikan kepemimpinan sebagai kemampuan untuk menggerakkan, mempengaruhi, memotivasi, mengajak, mengarahkan, menasehati, membimbing, menyuruh, memerintah, melarang, dan bahkan menghukum (kalau perlu), serta membina dengan maksud agar manusia sebagai media manajemen mau bekerja dalam rangka mencapai tujuan administrasi secara efektif dan efisien. Hal ini menunjukkan bahwa kepemimpinan sedikitnya mencakup tiga hal yang saling berhubungan, yaitu adanya pemimpin dan karakteristiknya, adanya pengikut, serta adanya situasi kelompok tempat pemimpin dan pengikut berinteraksi. Oleh karena itu Kepala Madrasah dituntut untuk memiliki kemampuan manajemen dan kepemimipinan yang tangguh agar mampu mengambil keputusan dan prakarsa untuk meningkatkan mutu madrasah terutama dalam rangka memberikan kebijakan kepada para guru untuk mengatasi problem yang dihadapinya dalam penerapan kurikulum berbasis kompetensi. 2. Faktor yang Mempengaruhi Kebijakan Kepala Madrasah Kepala madrasah selain menjadi pemimimpin juga sebagai supervisi dan administrator pendidikan. Kepala madrasah bukanlah orang yang selalu duduk di belakang meja atau hanya menanda tangani surat-surat saja tetapi kepala madrasah hendaknya memperhatikan prinsip-prinsip sebagai supervisi berikut: 1. Supervisi hendaknya bersifat konstruktif dan kreatif, yaitu pada yang dibimbing dan diawasi harus dapat menimbulkan dorongan untuk bekerja. 2. Supervisi harus didasarkan atas hubungan professional, bukan atas hubungan pribadi. 3. Supervisi hendaknya juga bersifat preventif (mencegah hal-hal yangnegatif), korektif (memperbaiki kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat), dan bersifat koperatif (mencari dan menemukan kesalahan dan berusaha memperbaiki bersama) dan masih banyak yang lain yangtidak kami cantumkan disini. Adapun faktor yang mempengaruhi berhsil-tidaknya supervisi atau cepat-lambatnya hasil supervisi itu adalah sebagai berikut: 1. Lingkungan masyarakat dimana madrasah itu berada 2. Besar kecilnya madrasah yang menjadi tanggung jawab kepala madrasah 3. Tingkatan dan jenis madrasah 4. Keadaan guru-guru dan fasilitas yang tersedia 5. Kecakapan dan keahlian kepala madrasah itu sendiri Dari factor-faktor yang mempengaruhi tersebut, maka kepala madrasah dapat mengambil kebijakan untuk mengatasi problematika guru dalam penerapan kurikulum berbasis kompetensi yang dimaksud. 3. Kebijakan yang Dilakukan Kepala Madrasah Mengatasi Problematika Guru dalam Penerapan Kurikulum 2013 Bila suatu penerapan yang dilalukan pasti ada problem-problem yang ditemui, tetapi sebagai pemimpin tidak ambil diam, Kepala Madrasah harus mencari suatu kebijakan untuk mengatasi problem-problem tersebut. Begitu juga dalam penerapan kurukulum 2013 pasti banyak problem-problem yang dialami. Dalam mengatasi problem tersebut pasti ada kebijakan yang dilakukan oleh kepala Madrasah dengan semaksimal mungkin untuk mengurangi dan mempersempit problem yang muncul. Adapun kebijakan yang dilakukan oleh Kepala Madrasah sebagai berikut: 1. Madrasah diberi kebebasan untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang mendatangkan penghasilan (income generating actisities), misalnya meminta bantuan kepada perusahaan-perusahaan setempat untuk memberikan bea siswa, mengadakan bazar atau pameran hasil karya siswa, sehingga sumber keuangan tidak semata-semata bergantung pada pemerintah. 2. Melengkapi sarana dan prasarana yang ada secara bertahap. Hal ini didasari oleh kenyataan bahwa madrasah yang paling mengetahui kebutuhan sarana dan prasarana baik kecukupan, kesesuaian, maupun kemuthahirannya dirancang secara khusus untuk kepentingan pembelajaran. Sarana dan prasarana disini meliputi: buku-buku pelajaran, alat-alat praktek dan lain-lain. 3. Menciptakan kedisiplinan dan pengawasan. Kedisiplinan dan pengawasan sangat baik untuk peningkatan kualitas guru, karena dengan hal ini guru akan berhati-hati dan bertanggung jawab terhadap tugas yang dibebankan kepadanya. Melalui pengawasan ini kepala madrasah harus semaksimal mungkin membantu memecahkan problem yang dihadapi guru. Dengan kedisiplinan dan pengawasan yang diterapkan oleh kepala madrasah pada lembaga pendidikan tersebut diharapkan para staff dan guru senantiasa bertanggung jawab terhadap tugas yang diembannya. 4. Musyawarah Guru Mata Pelajaran yang diadakan di madrasah merupakan salah satucara untuk memecahkan problem guru sekaligus untuk meningkatkan kemampuan guru, tujuan adanya musyawarah itu sendiri adalah untuk menyatukan pandangan guru terhadap konsep umum pendidikandan fungsi madrasah dalam mencapai tujuan pendidikan. Selain itu untuk menyatukan pendapat tentang metode-metode yang akan digunakan dalam proses belajar-mengajar serta pemecahan segala permasalahan yang ada didalam pengajaran. Jadi dengan adanya musyawarah dapat membantu baik individu ataupun kelompok untuk menyamakan pandangan serta menganalisis problem-problem dalam pengajaran serta mencari penyelesaiannya. 5. Pelatihan (trainning), pelatihan ini merupkan salah satu tehnik supervisi pendidikan yang dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan guru dalam proses belajar-mengajar, hal ini sesuai dengan pengertian pelatihan yaitu suatu usaha atau kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan taraf ilmu pengetahuan dan kecakapan para guru, dengan demikian keahlian yang dimiliki guru semakin bertambah luas dan mendalam. 6. membagi jumlah siswa yang terlalu banyak didalam kelas agar lingkungan belajar dapat kondusif (masing-masing kelas 25 siswa). 7. Meningkatkan kembali komunikasi yang baik dalam segala hal baik dalam pengambilan keputusan, evaluasi, dan lain-lain. Terutama dengan antar warga madrasah dan juga antara madrasah dengan masyarakat, sehingga kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh masing-masing warga madrasah dapat diketahui, terutama pada perkembangan peserta didik tentang pengembanagn keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT, serta akhlak mulia peserta didik seoptimal mungkin khususnya di madrasah yang didukung oleh upaya serupa dalam lingkungan keluarga, penanaman nilai ajaran Islam sebagai pedoman mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.




Share This Post To :

Kembali ke Atas

Artikel Lainnya :




Silahkan Isi Komentar dari tulisan artikel diatas :

Nama :

E-mail :

Komentar :

          

Kode :


 

Komentar :


   Kembali ke Atas